Di tengah kurangnya tenaga kerja, tak sedikit perusahaan justru terpaksa mengambil keputusan yang sulit karena harus memberhentikan pekerja.
Perusahaan-perusahaan besar semacam Meta, Amazon, hingga Disney bahkan memangkas hingga puluhan ribu karyawannya demi menghemat biaya operasional. Keputusan berat ini tentu nggak dilakukan asal-asalan.
Lalu, pernahkah kalian bertanya-tanya, bagaimana perusahaan ini menentukan karyawan mana yang harus mereka PHK?
Merangkum diskusi dalam podcast Wall Street Journal, dengan judul yang sama, How Companies Decide Which Employees Will Be Laid Off?, kira-kira seperti inilah penjelasannya:
Pada banyak kasus, para top leaders, CEO, dan chief financial perusahaanlah yang menetapkan kriteria ketat untuk melakukan PHK. Dari sini, tugas untuk memutuskan siapa yang harus dieliminasi sering kali berada di tangan para pemimpin divisi dan kepala departemen.
So, para top leaders ini kemudian akan membuat daftar karyawan yang mereka usulkan untuk diberhentikan. Tentunya berdasarkan kriteria yang ditetapkan.
Jurnalis Ekonomi WSJ, Chip Cutter dan J.R. Whalen pada podcast itu menyebutkan bahwa karyawan dengan nilai kinerja paling rendah atau yang baru bergabung dalam enam bulan terakhir, adalah yang paling potensial untuk diberhentikan.
Selain meninjau riwayat kinerja, menariknya tidak sedikit pula perusahaan yang mempertimbangkan masa depan karir karyawannya, lo! Karyawan yang ter-PHK nggak melulu karena kinerjanya yang buruk, tetapi bisa jadi mereka di-PHK karena punya potensi untuk beradaptasi dan mengembangkan karir di perusahaan barunya.
Nah, untuk menentukan siapa di antara list calon ter-PHK ini, para CEO biasanya melakukan penilaian ‘satu lawan satu’. Mana yang terbaik, maka dialah yang akan dipertahankan.
Lalu di era sekarang ini, keterampilan karyawan menjadi faktor utama dibandingkan lama kerja untuk memutuskan PHK. Karyawan dengan gaji tinggi juga kemungkinan besar masuk dalam pertimbangan.
Tak jarang juga, perusahaan sampai melibatkan pengacara dalam proses PHK guna menghindari masalah hak pekerja. Sebelum surat PHK dilayangkan, ada pula perusahaan yang memberikan ruang negosiasi bagi para karyawannya.
Yang terakhir, pemberhentian kerja oleh perusahaan biasanya juga based on project. Artinya, ada kecenderungan perusahaan lebih mempertahankan karyawan dalam proyek yang berpotensi memberikan pendapatan paling besar.
Dengan kata lain, kalau pekerjaan karyawan itu nggak begitu menghasilkan buat perusahaan, maka bersiap saja untuk cari pekerjaan baru.
Well, di tengah situasi ekonomi yang semakin tidak menentu, PHK adalah keputusan penting sekaligus berat bagi pemilik perusahaan. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kalian, ya, Founders!
Baca juga: Kenalin Ciri-Ciri Quiet Quitting Supaya Bisa Cepat diatasi!


