Kedatangan brand luar negeri tentu merupakan kabar baik bagi masyarakat yang hobi explore dan mencari rasa dan pengalaman baru. Tetapi tanpa manajemen dan strategi yang baik, brand tersebut juga bisa gulung tikar. Kabar terbaru datang dari Subway, restoran makanan cepat saji yang menyajikan sandwich, yang akan hadir di Indonesia. Tetapi ternyata ini bukan kali pertama Subway hadir di Indonesia loh Founders!
Restoran Subway pernah hadir di Indonesia pada era 1990-an di beberapa pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta seperti Pondok Indah Mal (PIM), Mal Taman Anggrek, Plaza Senayan, Mal Ciputra Jakarta, dan Wisma 46 hingga sampai ke daerah Kuta, Bali. Namun tak berselang lama, Subway dikabarkan tutup secara permanen dan hengkang dari Indonesia pada tahun 2000-an. Perbedaan kultur dimana makan roti bukan kultur Indonesia menjadi salah satu alasan Subway angkat kaki dari negara yang mendominasi kuliner nusantara, maka roti masih belum dapat menjadi pilihan sumber karbohidrat alternatif selain nasi pada saat itu.
Indonesia juga diketahui sebagai wilayah kekuasaan ayam goreng tepung dimana rata-rata restoran cepat saji merek internasional seperti KFC, McD, A&W, hingga Burger King memiliki menu ayam goreng tepung dan nasi, terlepas dari menu andalannya. Selanjutnya, harga satu porsi sandwich Subway dianggap juga kurang terjangkau yang dibanderol mulai dari Rp.40.000 – Rp.60.000. Tidak hanya itu, Subway dinilai kurang menyesuaikan menunya dengan selera lokal, padahal menyesuaikan produk sesuai dengan selera lokal merupakan salah satu rahasia sukses ketika ekspansi bisnis.
Yang kedua ada 7-Eleven atau lebih dikenal sebagai Sevel. Sevel tidak hanya sebuah jaringan kelontong yang buka selama 24 jam asal Amerika, tetapi juga tempat tongkrongan keren bagi para kaum urban. Sayangnya, Sevel terpaksa gulung tikar di Indonesia pada tahun 2017 lalu karena perilaku beli sedikit, namun lama nongkrong. Menurut Research Manager Euromonitor International Adhitya Nugroho, “Mereka bisa saja hanya membeli satu minuman atau roti, dan duduk di sana selama tiga jam”.
Selebihnya, Sevel yang hanya berkembang di daerah ibukota, tidak bisa menyaingi Alfamart dan Indomaret yang dapat melakukan ekspansi ke daerah-daerah lain. Sevel juga memilih sasaran target yang kurang tepat dimana daya beli dari masyarakat sangat rendah. Customer idaman Sevel yang hanya berjumlah sedikit, berbanding terbalik dengan jumlah anak- anak muda yang nongkrong berjam-jam walau hanya membeli snack atau soft drink saja sehingga pemasukan yang didapat tidak sebanding dengan cost yang harus dikeluarkan oleh Sevel.
Kabar mengenai rencana PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk mengakuisisi bisnis convenience store 7-Eleven yang dinyatakan batal juga menjadi salah satu alasan Sevel hengkang dari Indonesia.
Yang terakhir adalah Zomato, aplikasi yang sering digandrungi milenial untuk mencari restoran hits. Dengan layanan Zomato Pro atau Zomato Gold, pengguna mendapatkan kemudahan dalam hal reservasi, berbagai penawaran eksklusif, hingga pengiriman prioritas terutama saat pandemi COVID-19.
Sayangnya, Zomato memutuskan untuk menghentikan operasi lokal mereka di Indonesia dan juga menutup layanan premium Zomato Pro dan Zomato Gold pada Oktober 2020. Hal ini dikarenakan pemasukan mereka yang turun drastis di tengah pandemi dan pihak Zomato mengatakan bahwa mereka akan memfokuskan ulang strategi jangka panjang bisnis. Meski menutup operasi di Indonesia, Zomato mengklaim fitur pencarian restoran Zomato melalui aplikasi dan website masih bisa digunakan. Bahkan, pengguna masih dapat berbagi review dan foto di aplikasi tersebut.
So Founders, poin yang dapat dipelajari dari pengalaman para global brand diatas yaitu melakukan kesalahan dalam hidup itu biasa, tetapi belajar dari kesalahan dan menjadi lebih bijaksana adalah hal yang luar biasa!


