Bermula dari menangguhkan kuliah hingga memiliki brand yang sukses terpampang di Times Square New York, Muhammad Sadad, CEO sekaligus founder dari Erigo adalah pria dibalik kesuksesan brand tersebut.
Pria yang berasal dari Aceh ini sudah memiliki ketertarikan pada dunia bisnis sejak duduk di bangku sekolah. Saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, Sadad rela meninggalkan bangku kuliah dan melupakan gelar S1 demi mengembangkan bisnisnya.
Erigo Apparel
Berawal dari Selected & Co yang didirikan pada tahun 2010 silam, namun dikarenakan sepi peminat Sadad memutuskan untuk melakukan re-branding menjadi Erigo pada tahun 2013. Dengan tujuan untuk mengusung semangat anak muda, brand Erigo ingin mendorong anak muda untuk memiliki hasrat eksplorasi yang tinggi.
Sebelum sesukses ini, Erigo sempat mengalami pasang-surut. Saat Sadad mendirikan Erigo pada tahun 2011, dia memulai di kamar tipe studio di Depok, Jawa Barat dan melakukan segalanya sendirian. Sadad juga memberanikan diri untuk berpartisipasi pada acara JakCloth di pertengahan tahun 2013 dan ikut terjun melakukan semuanya untuk menekan biaya operasional.
Karena keinginannya yang besar untuk mengembangkan Erigo menjadi fashion style travelling melalui branding, Sadad berusaha membawa brand Erigo ke pameran di Malaysia. Namun, bukan untung yang ia dapat, justru rugi karena biaya operasional yang terlalu besar dibanding omzet yang didapatnya.
Alhasil, dia mengalami kerugian yang besar dan membuatnya pulang ke rumah tanpa membawa uang. Sadad bahkan rela tidur di musholla mal dan mandi di pom bensin. Pada saat dirinya dirundung kegagalan, orang tua Sadad tiada henti mengalirkan dukungan kepadanya hingga rela menjual ruko dan aset-aset mereka demi kemajuan usaha Sadad.
Sadad memilih untuk bangkit dari keterpurukan walaupun hal tersebut tidak mudah dan terus berusaha hingga sampai pada tahun 2015. Berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah, ia berhasil meningkatkan penjualan hingga ribuan persen dan pada 2015 lalu, dia mampu mencapai omzet hingga Rp22 miliar.
Kesuksesannya tentu tak pernah luput dari doa orang tua dan semangat yang telah diberikan. Di saat Sadad sudah menemukan cara yang tepat untuk kembali membangun bisnisnya, ia tidak ingin kehilangan momen tersebut dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah demi fokus berbisnis.
Meski sempat terkena dampak pandemi hingga harus mengurangi pegawai, Erigo tetap berdiri kokoh dan membuktikan penjualan di situs e-commerce meningkat lebih dari 10 kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Selain Indonesia, Erigo juga menjual produk mereka ke luar negeri melalui aplikasi e-commerce Shopee di Malaysia, Singapura, Filipina hingga Thailand. Erigo diketahui memiliki dan melakukan prinsip kerja 4 As yaitu, kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.
Menurut Sadad, jatuh bangun adalah hal yang biasa, karena sukses adalah buah dari ikhtiar, dan jatuh bangun juga merupakan bagian dari proses menuju prestasi. Terbukti dengan jerih payah dan iringan doa hingga dukungan dapat membawa Erigo Go International!
Lagi-lagi cerita dari kegagalan membawa kesuksesan, maka dari itu dapat disimpulkan setiap orang akan sukses dengan caranya sendiri asal tetap tanamkan dalam diri untuk tidak mudah menyerah dan fokus untuk tingkatkan usaha ya Founders!
Baca juga: Ben Soebiakto: Gagal, Hadapi dan Bangkit Hingga Sukses!


