Procter and Gamble, atau lebih dikenal sebagai P&G, merupakan korporasi barang konsumen multinasional Amerika Serikat (AS). Perusahaan raksasa ini dibentuk pada 1837 ketika seorang pembuat lilin bernama William Procter dan James Gamble, pengrajin sabun Irlandia menggabungkan bisnis mereka di Cincinnati.
Perusahaan yang mengkhususkan diri dalam berbagai macam produk rumahan, kesehatan pribadi, kebersihan, dan lainnya ini mudah diperoleh di pasaran, seperti Pantene, Head & Shoulders, Oral B, Tide, Pampers, dan banyak lagi. P&G merupakan salah satu perusahaan raksasa yang terdaftar dalam Fortune Global 500 yang mengalahkan Unilever sebagai pesaing terkuatnya dalam bidang barang konsumen. Walaupun P&G sangat terkenal, nama William Procter dan James Gamble masih sangat asing untung beberapa masyarakat. Dengan itu, kita akan kilas balik ke zaman P&G baru didirikan.

Source: id.pg.com
William Procter dan James Gamble memilih untuk berpindah ke Cincinnati karena disana terdapat bahan utama untuk kedua produk mereka yaitu lemak hewani. Salah satu kekuatan P&G selama dua abad terakhir yaitu perencanaan jangka panjang, suatu sifat yang diwarisi sejak awal.
Mereka juga dikenal sebagai contoh utama usaha yang mengenali permintaan pasar dan bagaimana memanfaatkannya. Strategi pertumbuhan intensif utama P&G adalah penetrasi pasar. Dalam strategi intensif ini, tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pangsa pasar perusahaan. P&G juga melakukannya melalui kampanye pemasaran untuk meningkatkan kesadaran konsumen akan produk-produk mereka.
P&G juga berfokus pada empat strategi bisnis utama untuk mendapatkan kepemimpinan pasar, menjadi perusahaan yang berfokus pada merek terkemuka, menjadi perusahaan global di pasar pertumbuhan yang ditargetkan, menjadi perusahaan yang didorong oleh inovasi dan menjadi perusahaan yang jauh lebih produktif dibandingkan kompetitor. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa hal yang telah mereka lakukan selama 100 tahun terakhir.
Misalkan selama Perang Saudara Amerika, perusahaan memenangkan kontrak untuk memasok sabun dan lilin kepada Union Army. Selain peningkatan keuntungan yang dialami selama perang, kontrak militer memperkenalkan tentara dari seluruh negeri ke produk P&G.
P&G kemudian mengeluarkan produk utama pertamanya yaitu Ivory Soap, sabun batangan paling murni di zaman itu. Perusahaan juga memulai kampanye pemasaran massal untuk mempromosikan produk dengan mengeluarkan iklan serta di surat kabar lokal dengan slogan “It floats!”
Setelah perang Saudara Amerika, P&G berkembang pesat berkat produk baru mereka melalui Tide, merek deterjen yang di masa itu akan membuat cucian lebih mudah dan lebih cepat. Pada akhir 40-an, deterjen berhasil menggantikan sabun. Hal ini juga dibantu dengan iklan yang menggunakan warna-warna cerah dan gambar ibu rumah tangga yang bahagia untuk memikat konsumen.

Source: www.pinterest.com
P&G juga menjadi pelopor dalam hal produksi massal popok sekali pakai, Pampers, yang terinspirasi dari insinyur mereka, Victor Mills, saat cucunya lahir. Mills, seperti banyak konsumen lainnya, merasa letih dengan popok kain yang berantakan. Dengan ini P&G menghabiskan waktu bertahun-tahun di area Research and Development (R&D) untuk mencari cara yang lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut dan meringankan beban konsumen.
P&G tidak hanya berkreasi, tetapi juga mengakuisisi Norwich-Eaton Pharmaceuticals untuk menambahkan Pepto Bismol dan Chloraseptic ke dalam perusahaan yang tengah berkembang pesat. Tujuan dari akuisisi ini adalah untuk memperkuat brand P&G dalam keberadaan nya di toko obat.
Jika ingin membahas inovasi dan kreasi P&G, maka tiada habisnya karena mereka telah memiliki lebih dari 65 merek ternama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. P&G membuktikan bahwa strategi yang digunakan oleh brand tersebut berhasil membawa perusahaan menuju kesuksesan.
So Founders, melihat dari keberhasilan yang telah dicapai oleh P&G dengan usaha dan strategi yang telah disusun selama bertahun-tahun, apakah kalian tertarik untuk menerapkan salah satu strategi P&G ke bisnis kalian?
Cerita lainnya: Winklevoss Brothers, Orang Dibalik Ide Facebook?