Setelah mengetahui lebih lanjut mengenai hard selling, kali ini kita akan membahas soft selling yang juga menjadi salah satu metode pemasaran yang populer di kalangan pebisnis nih Founders!
Selain mengetahui tentang arti dari soft selling itu sendiri, kita juga akan membahas pro dan kontra dari metode pesaing hard selling ini! Yuk simak bersama!

Soft Selling
Soft selling merupakan sebuah sales approach yang bersifat tidak langsung, lebih relax, cenderung tidak mengejar, serta tidak agresif. Tujuan dari soft selling yaitu membuat customer membeli tanpa membuat rasa ‘dikejar-kejar’, improve your relationships with customers hingga sales repetition.
Alih-alih mendesak untuk membeli di tempat, soft selling lebih fokus ke hubungan jangka panjang dengan pelanggan dengan menggunakan daya tarik emosional.
Contoh umumnya seperti: Memberikan free samples, CTA (call to action) button di media sosial, dan lainnya.
Pro dan Kontra Soft Selling
Pro:
– Membantu brand dalam membangun reputasi yang baik → Dengan sifat yang tidak mendesak dan memberi kesempatan kepada customer untuk menimbang-nimbang, first impression customer menjadi less negative.
– Customer-oriented → Memberikan kesempatan kepada customer untuk mengetahui potential benefits yang dimiliki, bukan hanya mementingkan ‘closing’ semata.
– Memiliki peluang lebih tinggi untuk repeated order.
Kontra:
– Kecil kemungkinannya untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
– Kalah dalam kompetisi → Karena sifat soft selling cenderung dalam jangka panjang, kompetitor dapat ‘merebut’ calon pelanggan kalian.
Soft Selling or Hard Selling?
Alih-alih menimbang dan membandingkan mana yang lebih baik, melainkan lebih fokus kepada kepada jenis industri, target market, customer base, dan strategi marketing kalian ya Founders! Lain dari itu, tidak harus terpaku kepada salah satu metode melainkan, kalian dapat mix things up kedua metode tersebut!
Metode lainnya: Pro dan Kontra dari Metode Hard Selling!


