Model bisnis yang semakin banyak jenisnya salah satunya yaitu model bisnis social enterprise untuk menangani masalah sosial dan lingkungan, ditambah meningkatnya kepedulian akan sesama yang membutuhkan. Namun dibalik itu semua, apakah social entrepreneurship menghasilkan keuntungan?
Social entrepreneur
Social entrepreneur merupakan orang yang memiliki inovasi baru dan memiliki potensi untuk memecahkan permasalahan berbasiskan masyarakat yang biasanya menghasilkan produk yang ramah lingkungan, melayani komunitas yang kurang beruntung, atau fokus pada philanthropic activities untuk mengatasi kebutuhan sosial.
Contoh!
TOMS Shoes: The Buy-one-give-one Social Enterprise Business Model
Setiap kali konsumen membeli satu pasang sepatu, TOMS Shoes akan menyumbangkan satu pasang sepatu.
Social Enterprise bukan lembaga amal!
Social Entrepreneurship tidak berarti berbagi produk/ jasa secara cuma-cuma lho Founders!
1. Dapat dikategorikan sebagai social entrepreneurship jika ada proses transaksi jual-beli
2. Mendapatkan keuntungan adalah cara untuk mencapai visi, bukan tujuan utama
3. Laba yang dihasilkan akan diputar kembali untuk visi dan misi awal (masalah sosial)
4. Lembaga amal yang hanya mengandalkan donasi atau sumbangan semata biasanya tidak dianggap sebagai social entrepreneurship
Lalu, apa perbedaan Social Enterprise dengan Non-Governmental Organization (NGO)?
Jika dilihat melalui sumber pendapatan, Social Enterprise mendapatkan dana dari bisnis atau penjualan. Sedangkan NGO cenderung memperoleh dana dari donasi atau bantuan.
Kebayang kan Founders? Model bisnis juga memiliki perhitungan tersendiri dan jangan samakan social enterprise dengan lembaga amal tetapi coba tiru dari campaign kebaikannya!
Baca juga: ‘Wow Factor’ dalam Bisnis, Apa Artinya?
